Translate

Senin, 21 Oktober 2013

Pesan Dalam Persahabatan (Persi Islam) (Update)

Pesan Dalam Persahabatan (Persi Islam) update.

Persahabatan antara seseorang dengan orang lain bisa menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, namun sebaliknya bisa juga menjauhkan diri dari-Nya. Persahabatan adalah buah dari kebaikan akhlaq, sedangkan perseteruan adalah buah dari buruknya akhlaq. Kebaikan akhlaq adalah akar dari kasih sayang, sementara keburukan akhlaq adalah akar dari kebencian, dengki, dan permusuhan.
  Buah dari akhlaq adalah segala sesuatu yang bersifat terpuji dan hal inilah yang dapat membawa kita ke surga. Dalam salah satu riwayat disebutkan, “Sikap yang akan membawa banyak manusia masuk ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan berakhlaq mulia.” [HR. Bukhari Muslim dari Abi Hamid] 
     Dalam hadits lainnya disebutkan, “Sesuatu yang terberat dan pernah diletakkan dalam Mizan (timbangan amal) adalah akhlaq yang mulia.” [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu]

     Pada saat persahabatan dilandasi oleh cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla maka keutamaannya menjadi sangat tinggi dan mulia. Dari Al-Quran kita bisa mengambil pelajaran, “Sekiranya saja engkau belanjakan seluruh apa yang ada di bumi, niscaya engkau tidak akan dapat menundukkan qalbu mereka. Akan tetapi hanya Allah-lah yang mampu menyatukan qalbu mereka.” [QS. Al-Anfaal: 63] Dalam Surat Ali-Imran 103 pun Allah melarang kita bercerai-berai dan bertikai.

    “Sesungguhnya orang yang paling baik dekat kedudukannya denganku diantara kalian adalah yang paling baik akhlaqnya dan senantiasa bersikap tidak sombong kepada sesama. Orang-orang seperti itu termasuk kelompok yang mencintai dan yang dicintai”.

     “Seorang mukmin adalah siapa yg gemar mengasihi dan dikasihi oleh sesamanya. Tiada kebaikan di dalam diri seseorang yg tdk gemar mengasihi.” [HR. Thabrani dr Jabir ibn Abdullah.]

    “Siapa saja yang dikehendaki baik oleh Allah, niscaya akan dikaruniai seorang sahabat yang soleh. jika ia sudah lupa, maka sahabatnya yang soleh mengingatkannya. dan jika ia sedang sadar maka sahabatnya yang soleh itu mau membantu menjaga serta mengawasinya.” “Sesungguhnya Allah SWT berfirman pada hari berbangkit nanti,”Dimanakah mereka yang saling mengasihi karena Aku? Pada hari ini tidak ada naungan kecuali naunganKu. Aku akan melindungi mereka dalam naunganKu.” [HR. Muslim dari Anas ibn Malik ra].

     “Pada saat seseorang berkunjung kepada sahabatnya karena Allah SWT, maka Allah SWT akan mengirimkan malaikat dengan diam - diam kepadanya untuk menanyakan ‘Apa yang akan engkau lakukan? ‘Lalu ia menjawab, ‘Aku mau mengunjungi saudaraku.’ Malaikat bertanya kembali,’ Apakah engkau ada keperluan? jawabnya, ‘Tidak ada.’ Malaikat melanjutkan, ‘Apakah karena ia ada hubungan kerabat denganmu?’ Jawabnya lagi, ‘Tidak.’ Sambung malaikat, ‘Apakah karena ia telah memberikan sesuatu kepadamu?’ Jawabnya, ‘Tidak.’ Tanya malaikat kemudian, ‘Kalau begitu karena apa engkau mengunjunginya?’ ia menjawab,’Aku mengasihinya karena Allah SWT..’Lalu malaikat berkata kepadanya,’Sesungguhnya Allah SWT mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan berita bahwa Dia mengasihimu seperti engkau mengasihinya, dan bahwa surga akan dianugerahkan kepadamu.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah ra]

       Rasulullah SAW bersabda, “Bersahabatlah dengan orang yang dapat mengingatkan kalian kepada Allah SWT. yang kata-katanya menambahkah amal kalian dan yang membangkitkan kegairahan sanubarimu untuk beramal bagi kepentingan akhirat ketika kalian memandang mereka”

       Dalam menjalin persahabatan tidak semua manusia cocok untuk dijadikan sahabat, “Manusia itu mengikuti kebiasaaan sahabat dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah salah seorang dari kalian memikirkan siapa yang akan dijadikan sahabat” [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi].

        Orang yang akan kita ikat dengan tali persahabatan harus memiliki 5 perkara pada dirinya: 
1. Akal, 
2. Akhlaq yang baik, 
3. Bukan pengemar maksiat, 
4. bukan ahli bid’ah, 
5. tidak bersikap haus dgn urusan dunia. 

      Akal adalah pokok, seseorang yang menggunakan akalnya memahami apa yang dilakukannya, sementara yang tidak mnggunakannya tidak mengerti haq dan bathil. Al-Junaid rahimahullah berkata:”Persahabatan dengan orang fasik yang brakhlaq baik lebih aku sukai daripada persahabatan dengan orang terpelajar namun berakhlaq buruk..”

       Alqamah al-Atharidi berwasiat kedua anak laki- lakinya, “Wahai anakku, apabila engkau merasa perlu untuk bersahabat, maka bersahabatlah dengan orang yang akan menyalamatkanmu jika engkau menyelamatkannya, yang akan meningkatkan keindahan akhlaqmu jika engkau bersahabat dengannya, yang akan membantumu ketika engkau berada dalam kesulitan, apabila engkau mengulurkan tanganmu kepadanya, ia akan mengulurkan tangannya kepadamu. Ia akan membantumu dalam perbuatan baik yang engkau kerjakan. Ia akan menghilangkan keburukannmu apabila ia melihatnya. Ia akan memberimu apabila engkau menginginkan sesuatu darinya. Ia akan memulai pembicaraan denganmu ketika engkau hanya berdiam diri. Ia akan menolongmu ketik bencana menimpa dan menyakitkanmu. Ia akan mendukungmu dalam rencana perbuatan baikmu ia akan menyampaikan perbedaan pendapatnya, dengan pendapatmu di tempat terhormat ketika perbedaan pendapat diantara kalian suatu ketika muncul.
      Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Sahabatmu yang sejati adalah siapa yang setia bersamamu, yang rela menderita demi kebaikanmu, yang mendatangimu apabila engkau ditimpa musibah dan yang bersedia berkorban demi menolongmu. Abu Dzarr al-Ghiffari radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kesendirian lebih baik daripada sahabat yang berakhlaq buruk dan sahabat yang berakhlaq baik lebih baik daripada kesendirian.
         Dari semua paparan singkat di atas, dapatlah kita menarik beberapa hikmah penting]
  1. Bersahabatlah atas dasar keimanan kepada Allah Ta’ala
  2. Jadikan akhlaq mulia sebagai landasan pokok dalam menjalin persahabatan
  3. Pilah dan pilihlah orang yang akan engkau jadikan sahabat
  4. Karena kita tinggal di negeri yang mayoritas non-muslim, jika kita berteman dengan orang kafir, berkelakukanlah dengan baik namun tanpa mencintainya.Wallahu A’lam.#KMI-S#

Related Post:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar